lampungsekelik.com – Ada sebuah pepatah yang sering kita dengar: “Masa depan adalah misteri, hari ini adalah anugerah, dan hari kemarin adalah hadiah.” Kalimat ini sederhana, namun menyimpan makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar rangkaian kata motivasi, melainkan sebuah landasan filosofis tentang bagaimana manusia seharusnya memandang kehidupan.
Dunia yang kita tempati ini adalah ruang tempat kita berikhtiar, berusaha, dan menyempurnakan segala upaya. Kita hidup di antara tiga dimensi waktu: masa lalu yang telah berlalu, masa kini yang sedang kita jalani, dan masa depan yang belum terungkap. Dari ketiganya, hanya satu yang benar-benar berada dalam kendali kita—yaitu hari ini.
Masa depan adalah misteri. Tidak ada satu pun manusia yang mampu memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan rencana yang telah disusun dengan sangat matang pun tidak menjamin keberhasilan. Di sinilah letak pentingnya pemahaman tentang ikhtiar dan tawakal dalam ajaran Islam.
Setiap manusia pasti memiliki harapan. Harapan tentang kehidupan yang lebih baik, masa depan yang cerah, dan keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan. Harapan-harapan ini menjadi bahan bakar yang mendorong manusia untuk terus bergerak.
Namun, harapan saja tidak cukup. Ia harus diiringi dengan ikhtiar.
Ikhtiar dalam Islam bukan sekadar usaha biasa. Ia adalah bentuk kesungguhan yang dilandasi dengan niat yang benar dan dilakukan dengan cara yang baik. Ikhtiar adalah manifestasi dari keimanan seseorang bahwa Allah SWT memberikan ruang bagi manusia untuk berusaha.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha. Allah memberikan peluang, tetapi manusia yang harus mengambil langkah.
Dalam kehidupan, ada satu hal yang tidak bisa kita hindari, yaitu takdir. Takdir sering kali disalahpahami sebagai sesuatu yang membuat manusia pasrah tanpa usaha. Padahal, dalam Islam, takdir justru berjalan beriringan dengan ikhtiar.
Takdir masa depan adalah sesuatu yang belum diketahui. Ia tetap menjadi misteri bagi siapa pun. Namun, yang pasti adalah bahwa setiap kejadian yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda ;
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim)
Hadits ini memberikan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Kita diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap menyandarkan hasilnya kepada Allah.
Para ulama besar telah banyak membahas hubungan antara ikhtiar dan takdir. Di antaranya adalah Imam Syafi’i dan Imam Malik.
Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama yang sangat menekankan pentingnya usaha. Beliau pernah berkata:
“Barang siapa yang ingin dunia, maka harus dengan ilmu. Barang siapa yang ingin akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang ingin keduanya, maka harus dengan ilmu.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak datang begitu saja. Ia harus diupayakan melalui proses, kerja keras, dan pembelajaran.
Imam Syafi’i juga mengajarkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha. Justru, tawakal yang benar adalah ketika seseorang telah melakukan usaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Sejalan dengan Imam Syafii. Imam Malik juga memiliki pandangan yang sejalan. Beliau menekankan pentingnya mengikuti sunnah dan menjalankan usaha dengan penuh kesungguhan.
Beliau pernah menyampaikan bahwa:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya.”
Artinya, keberhasilan tidak bisa dilepaskan dari usaha yang benar, metode yang tepat, dan keteladanan dari generasi sebelumnya.
Rasulullah SAW bersabda :
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menarik. Burung tidak diam di sarangnya menunggu makanan. Ia tetap terbang, mencari, dan berusaha.
Dalam Hadits lain, Rasulullah juga bersabda :
“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Ini adalah simbol bahwa usaha harus dilakukan sebelum berserah diri.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya berharap, tetapi juga berusaha. Tidak hanya berencana, tetapi juga bertindak. Dan tidak hanya bekerja, tetapi juga bertawakal kepada Allah SWT.
Imron Rosadi
( kontributor infogeh & Lampung sekelik )

